Selasa, 27 November 2012

Makanan Khas kab.Bantul

Wedang uwuh

 

A. Selayang Pandang
Wedang jahe sudah dikenal hampir di seluruh kawasan Nusantara. Tetapi, wedang jahe yang satu ini boleh jadi hanya ada di Imogiri, Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta, tepatnya di kawasan makam raja-raja mataram imogiri. Namanya wedang uwoh, yang dalam bahasa Jawa berarti sampah. Sebelum dikenal dengan nama wedang uwoh, mulanya minuman ini dikenal sebagai wedang jahe-cengkeh. Konon, wedang jahe-cengkeh merupakan minuman khusus kerabat raja Kerajaan Mataram Islam pada masa Sultan Agung. Namun, lama kelamaan, setelah masyarakat umum ikut mengkonsumsi minuman ini dan mulai mencampurkan beberapa jenis dedaunan yang lain, maka nama wedang uwoh kemudian mulai dikenal.
B. Keistimewaan
Seperti wedang jahe pada umumnya, wedang uwoh juga dikenal sebagai minuman yang berkhasiat untuk memulihkan dan menghangatkan kondisi tubuh serta mengobati masuk angin. Akan tetapi, berbeda dengan wedang jahe biasa, wedang uwoh memiliki aroma kuat dari daun cengkeh dan kayu manis dengan kombinasi warna dari secang.
C. Lokasi
Selain dapat ditemui di warung-warung sekitar Makam Raja-Raja Mataram Imogiri, wedang uwoh juga mudah didapat di Pasar Imogiri, Bantul, DI Yogyakarta, Indonesia.
D. Harga
Wedang uwoh dijual seharga Rp 1.000-1.200 per gelas. Namun, jika wisatawan berminat membawanya sebagai oleh-oleh, maka dapat membeli wedang uwoh dalam kemasan seharga Rp 1.000 per kemasannya (Oktober 2008).

Sate klatak 

 

Berbeda dengan sate-sate lainnya yang biasa dimasak menggunakan bumbu yang beragam, Sate Klatak hanya dibumbui dengan garam dan dipanggang menggunakan jerusi besi. Meskipun terkesan sederhana, namun justru kesederhanaan inilah yang menjadi daya tarik sate tersebut. Sate Klatak ini bahkan mampu menjadi salah satu ikon wisata kuliner Yogyakarta.
Pada mulanya, warung Sate Klatak yang ada di Pasar Jejeran, Bantul, merupakan milik Mbah Ambyah. Saat itu warga Jejeran banyak yang memelihara kambing, sehingga tercetuslah ide dari Mbah Ambyah untuk membuat sate berbahan dasar kambing. Beliau pun memulai usahanya di bawah pohon melinjo pada tahun 1946. Setelah Mbah Ambyah meninggal, warung ini kemudian diwariskan secara turun temurun kepada anak-anaknya.
Sejarah mengenai penamaan Sate Klatak sendiri cukup beragam dan sampai saat ini belum diketahui secara pasti mana yang benar. Ada yang mengatakan bahwa kata klatak berasal dari bunyi daging yang dipanggang. Namun, ada pula yang berujar bahwa kata klatak berasal dari bunyi buah melinjo yang jatuh di sekitar Warung Mbah Ambyah.
C. Lokasi
Untuk dapat menikmati Sate Klatak dari tempat asalnya, Anda dapat berkunjung ke Pasar Jejeran, Kecamatan Pleret, Bantul, Yogyakarta. Akses menuju tempat itu terbilang mudah. Dari Terminal Giwangan, Anda bisa langsung menuju ke arah Selatan menyusuri Jalan Imogiri Timur. Penjual Sate Klatak yang ada di Pasar Jejeran biasanya mulai berdagang pada pukul 18.30 WIb hingga larut malam. Jika Anda tidak sabar menunggu malam, Anda dapat mampir ke warung Sate Klatak yang ada di sepanjang Jalan Imogiri Timur.
D. Harga
Dibandingkan dengan harga sate lainnya, harga Sate Klatak yang ada di Pasar Jejeran tergolong cukup tinggi. Satu porsi yang hanya terdiri dari dua tusuk sate, penikmat harus membayar Rp 10.000,00, satu setengah porsi Rp 15.000,00 dan untuk porsi jumbo seharga Rp 20.000,00. Menurut salah seorang penjual Sate Klatak, tingginya harga sate ini dikarenakan irisan dagingnya yang besar-besar dan menggunakan daging kambing terbaik.

Geplak

 

Rasa penganan yang berbahan dasar daging kelapa muda, gula, dan tepung beras ataupun tepung ketan ini memang mencerminkan predikat dan citra lidah orang Jogja selama ini, yaitu berasa manis, bahkan mungkin terlalu manis bagi lidah yang belum terbiasa. Namun, mungkin karena manisnya inilah geplak justru menjadi salah satu primadona dan oleh-oleh yang paling dicari oleh para wisatawan yang berkunjung ke Yogyakarta dan ke Kabupaten Bantul pada khususnya.
Sejarah geplak sendiri tidak lepas dari riwayat banyaknya pabrik gula, perkebunan tebu dan kelapa yang ada di Bantul. Pada era kolonial Hindia Belanda, Bantul terkenal sebagai daerah penghasil gula tebu . Tercatat ada enam buah pabrik gula pada masa itu dan banyak tanah-tanah pertanian yang ditanami tebu.
B. Keistimewaan
Nilai lebih dari geplak tentu saja rasanya yang super manis. Namun, manisnya geplak bukan sembarang manis, melainkan manis-manis gurih kelapa. Bahan-bahan membuat geplak pun mudah didapat, yakni kelapa yang masih agak muda, tepung beras ketan, daun pandan, gula pasir atau gula kelapa (gula jawa), air, garam, dan vanili bubuk.
Cara pembuatan geplak sederhana dan gampang dilakukan. Semua bahan yang dibutuhkan kemudian disangrai dan dibentuk bola-bola. Bentuknya yang bulat lonjong dan tidak beraturan karena hanya dikepal-kepal dengan tangan tanpa dicetak justru menjadi ciri khas geplak selain rasanya yang legit dan menggigit. Memasak bahan-bahan yang diperlukan harus sampai benar-benar matang, sehingga geplak yang dihasilkan menjadi lebih awet dan bisa dijadikan oleh-oleh yang tahan lama (
C. Lokasi
Geplak Bantul sangat mudah diperoleh di berbagai sentra penjualan oleh-oleh yang banyak terdapat di Yogyakarta dan sekitarnya, seperti di kawasan Pathuk, Kotagede, Malioboro, Prawirotaman, Suryowijayan, dan lain-lainnya.
D. Harga
. Pada hari-hari biasa, satu kilogram geplak dijual dengan harga Rp 16.000,-, sedangkan di masa-masa liburan atau ketika pada libur Lebaran, harga geplak mengalami sedikit kenaikan, yakni dijual dengan banderol harga Rp. 18.000,- (per September 2009).

Peyek tumpuk

 

 


A. Selayang Pandang
Peyek kacang ini merupakan penganan hasil kreativitas Mbok Tumpuk dan sudah dikenal sejak tahun 1975. Dulu hanya bisa ditemukan di daerah Bantul saja, tapi kini Peyek Tumpuk sudah merambah ke kota-kota disekitarnya. Di sentra oleh-oleh khas Jogja pun bisa ditemukan. Nama tumpuk diambil dari nama Mbok Tumpuk, sehingga tak heran peyek ini lantas disebut peyek tumpuk oleh pembelinya. Selain karena wujudnya yang menumpuk, juga karena nama pembuat pertamanya.
Warna rempeyek ini putih, tidak kuning kecokelatan karena adanya tepung kanji yang digunakan sebagai campurannya,selain tepung terigu. Meskipun begitu, rasanya tetap saja renyah. Gurih dan renyahnya peyek ini juga karena campuran adonan tepung yang diberi bumbu seperti ketumbar, bawang , kemiri, garam, santan dan telur.
C. Lokasi
Jika Anda ingin merasakan gurih dan renyahnya Peyek Tumpuk, Anda bisa mencarinya di Kabupaten Bantul tepatnya di Sentra Penjualan oleh-oleh di Jalan Jenderal Sudirman dan Jalan Wachid Hasyim Bantul. Selain itu Peyek Tumpuk juga bisa didapat di Daerah Imogiri.
E. Harga
Peyek Tumpuk ini dijual dengan harga berkisar Rp. 30.000,00 per Kg.

sumber :

0 komentar:

Poskan Komentar